fifie mawi

fifie mawi

Tuesday, January 25, 2011

Cinta Dunia... ( Muhasabah )


by Abu Hanifah 

Cinta dunia adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidaklah sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahta hanyalah bagian terkecil dari kehidupan dunia yang amat luas itu. Kehidupan dunia adalah kondisi obyektif Anda sebelum meninggalkan dunia. Sedangkan akhirat adalah kondisi obyektif

Anda setelah meninggal. Apa pun isi kehidupan yang Anda hadapi sebelum meninggal, maka itu adalah kehidupan dunia, kecuali ilmu pengetahuan, ma’rifat dan kebebasan. Kehidupan duniawi itu amat variatif.

Apa yang ada setelah kematian, juga merupakan wahana kenikmatan, bagi yang memiliki matahati. Tetapi wahana setelah meninggal itu bukanlah dunia, walaupun muncul di dunia.

Bagian-bagian duniawi tersebut saling terkait satu sama lain, berkaitan pula dengan upaya perbaikan kerja Anda, yang kembali pada harta-benda yang ada dan bagian Anda di dalamnya, serta kesibukan Anda untuk memperbaikinya.
Yang berupa harta-benda (materi) adalah bumi beserta isinya. 

Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya...” (Q.s. Al-Kahfi: 7).

Kepentingan manusia terhadap bumi itu pun bervariasi, bergantung pada sisi bumi itu sendiri. Tanahnya secara umum dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat tinggal dan kebun. Tetumbuhannya sebagai obat dan makanan. Barang tambangnya sebagai sumber devisa, bahan-bahan produksi dan berbagai peralatan. Sedangkan binatang-binatang difungsikan sebagai alat kendaraan dan bahan makanan. Adapun manusia itu sendiri berperan sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi dengan melakukan berbagai kebajikan dan mengembangkan keturunan. Semua itu telah terhimpun dalam firman Allah swt.:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...” (Q.s. Ali Imran: 14).




Sedangkan bagian duniawi Anda di muka bumi, telah diungkapkan Al-Qur’an melalui kata “hawa nafsu”.

Allah swt. berfirman:

“... dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya ...” (Q.s. An-Nazi’at: 40).

Kemudian sebagai rincian terhadap ayat tersebut, Allah swt. berfirman pula:

“... Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaianan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak...” (Q.s. Al.-Hadid: 20).

Di balik semua itu berbagai ancaman terselubung terhadap batin, berupa kedengkian, kesombongan, riya’, hipokrit, berfoya-foya, cinta dunia dan gila sanjungan. Semua itu adalah dunia batin. Sementara kekayaan fisik adalah dunia lahiriah. Kesibukan Anda untuk memakmurkan dan mengolah dunia melalui industri dan profesi, yang membuat manusia sibuk sehingga lupa diri, lupa prinsip dan kehilangan makna hidup, semata karena kelelapan mereka terhadap kesibukan duniawi itu.

Kesibukan itu muncul akibat dua kaitan: ketergantungan hati karena cinta dunianya, dan ketergantungan fisik dengan sibuk mengolahnya.

Itulah hakikat dunia, yang -apabila -mencintainya merupakan pangkal dari segala dosa. Padahal dunia diciptakan semata sebagai bekal menuju akhirat. Hanya saja gemerlap dunia itu seringkali membuat orang tersesat sehingga lupa pada tujuan hidupnya sebagai musafir menuju alam akhir. Ibarat pemula yang menunaikan ibadat haji, dia pasti disibukkan dengan segala persiapan dan perbekalan maupun perlengkapan kendaraannya, sehingga akhirnya dia pun tertinggal oleh rombongannya dan gagal menunaikan ibadat haji, malah dimangsa oleh binatang buas di padang pasir.

Itulah dunia yang tercela dan yang menghancurkan. Padahal substansinya adalah ladang akhirat. Kehidupan dunia merupakan salah satu fase perjalanan menuju Allah swt. Ia ibarat perumahan yang dibangun di tengah jalan. Di situ segala bekal perjalanan dipersiapkan dan disimpan. Siapa pun yang mempersiapkan dan mengambil bekal perjalanannya di situ sekadar kebutuhan, seperti bekal makanan, pakaian, menikah dan kebutuhan lain, maka la benar-benar menanam tanaman dan akan dipetiknya kelak di akhirat. Tetapi, barangsiapa melebihi batas dalam mengambil bekal dan terlena olehnya, maka dia bakal binasa.




Hidup di dunia, ibarat suatu kaum yang mengendarai sebuah kapal. Di suatu pulau, kapal itu berlabuh. Para awak kapal menyuruh penumpang turun untuk melihat-lihat kondisi alam di pulau tersebut dan sekaligus memenuhi hajat yang diperlukan. Akan tetapi, mereka diliputi kekhawatiran tertinggal oleh kapal dan tempatnya diambil alih orang lain. Maka, reaksi mereka pun berbeda-beda satu sama lain. Ada yang segera turun dan memenuhi hajat kebutuhannya, lalu segera kembali ke kapal sehingga mendapatkan tempat yang luas dan masih kosong. Ada yang terlena menyaksikan panorama pulau itu, sehingga terlambat naik ke kapal dan akibatnya dia pun tidak mendapatkan tempat yang cukup luas untuk dirinya berikut buah tangan yang dibawanya. Karenanya, buah tangannya itu terpaksa dipikul di atas bahunya hingga ke tempat tujuan.

Dan bahkan ada yang amat terlena hingga masuk ke dalam belantara yang berpanorama sangat indah, terpesona oleh keindahan bunga-bunga, tidak ingat ancaman binatang buas, keganasan alam, dan sebagainya. Ketika tiba di pantai, dia mendapatkan bahwa dirinya ternyata tertinggal seorang diri di tepi pantai. Selang beberapa saat kemudian datanglah binatang buas dan binatang berbisa yang siap memangsanya.

Demikianlah ilustrasi kehidupan di alam dunia bila dikaitkan dengan kehidupan akhirat. Cobalah kita renungkan!

Orang yang mengenal dirinya sendiri, akan mengenal Tuhannya. Siapa yang mengenal perhiasan dunia dan mengenal akhirat, maka la akan menyaksikan dengan cahaya jiwa, betapa kehidupan dunia itu bertentangan dengan kehidupan akhirat. Salah satunya adalah, bahwa seseorang tidak akan mencapai kebahagiaan di akhirat, kecuali jika menghadap Allah swt. dengan ma’rifat dan mahabbah kepada-Nya. Dan mahabbah tidak akan bisa dicapai, kecuali dengan melanggengkan dzikir.




Demikian pula ma’rifat kepada-Nya tidak akan teraih, kecuali dengan terus “mencari” dan “berpikir”. Dan keduanya tidak dapat dilakukan, kecuali menghindarkan diri dari kesibukan duniawi. Sebab, cinta dan ma’rifat kepada Allah tidak akan pernah bersandar di hati, kecuali bila hati itu sendiri terlepas dari rasa cinta kepada selain Allah swt. Dan teosofi seperti ini hanya dapat dihampiri oleh orang-orang yang tergolong ahli bashirah. Jika Anda memiliki matahati (bashirah), Anda adalah ahli rasa (dzauq) dan musyahadah. Bila Anda tidak mungkin seperti mereka, cukuplah Anda menjadi kelompok taqlid dan ahli iman saja. Namun perhatikan peringatan Allah dalam Al-Qur’an dan AsSunnah.

Allah swt. berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna...” (Q.s. Hud:15).

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat...” (Q.s. An-Nahl: 107).

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia...” (Q.s. An-Nazi’at: 37-8).

Sepertiga dari Al-Qur’an, ayat-ayatnya mengecam dunia dan para pengabdi dunia.

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu dilaknat, berikut segenap isinya juga dilaknat, kecuali jika disertai untuk tujuan kepada Allah swt.” (Al-Hadits).

“Dunia adalah manisan hijau. Dan Allah mengangkat kamu sebagai khalifah di atasnya, dan Dia menyaksikan bagaimana cara kamu bekerja.” (Al-Hadits).

“Sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu makhluk yang paling dibenci-Nya, melebihi dunia. Semenjak diciptakan, Dia tidak pernah memandangnya.” (Al-Hadits).

Sabdanya pula, “Barangsiapa di waktu paginya menjadikan dunia sebagai cita-cita utama, dia tidak akan mendapatkan apa pun dari Allah swt. Justru Dia akan senantiasa menyiksa hatinya dengan empat perkara: Kesusahan yang tidak ada putus-putusnya, kesibukan yang tiada akhirnya, kemiskinan yang tiada mencapai kekayaannya, dan angan-angan yang tidak akan pernah sampai tujuannya selama-lamanya. “

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, maukah kamu bila kuperlihatkan dunia secara keseluruhan?’Aku menjawab, `Ya.’

Lalu beliau memegang tanganku dan menjulurkannya ke tempat sampah yang di dalamnya terdapat tengkorak kepala manusia, kotoran, kain lusuh dan tulang-belulang. Kemudian beliau bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, kepala-kepala (tengkorak) ini adalah ketamakan dan angan-angan manusia, kini ia telah menjadi tulang tanpa kulit dan akan menjadi debu. Sedangkan kotoran ini adalah aneka makanan yang dimakan dan hasil usaha manusia, yang kemudian mereka buang dari perutnya, sehingga mereka saling menjaganya. Dan kain lusuh ini adalah pakaian mereka yang dicerai-beraikan oleh hembusan angin. Sedang tulang-belulang ini adalah tulang-belulang binatang yang mereka cari dan pelihara sampai ke berbagai penjuru. Barangsiapa menangisi dunia, maka menangislah!”

Dalam hadits lain beliau bersabda, “Kelak pada hari Kiamat akan datang suatu kaum yang amal perbuatan mereka seperti Gunung Tihamah; tetapi mereka digiring ke neraka.”Para sahabat berkata, “Termasuk orang yang mengerjakan salat wahai Rasulullah?” Nabi saw. menjawab, “Ya, mereka salat, puasa dan bangun di sebagian tengah malam. Dan bila ditawarkan nilai dunia, maka mereka sama-sama bergegas merebutnya.”

Nabi Isa as. menegaskan, “Cinta pada dunia dan juga pada akhirat tidak bisa menempati hati seorang Mukmin, seperti air dan api tidak bisa berada pada satu tempat.”




Rasulullah saw bersabda, “Waspadalah terhadap dunia, karena lebih dini daripada Malaikat Harut dan Marut.”

Nabi Isa as. bersabda, “Wahai Hawariyun, relakanlah dirimu mendekati dunia disertai keselamatan agama, sebagaimana penghuni dunia rela mendekati agama disertai keselamatan dunia.”

Diriwayatkan, bahwa Isa as. diperlihatkan substansi dunia dengan gambaran wanita tua yang buruk rupa, walaupun diberi perhiasan macam-macam. Isa as. berkata, “Berapa kali engkau menikah?”Wanita tua itu menjawab, `Aku tidak bisa menghitung suami-suamiku.” Isa as. bertanya lag’, “Mereka menceraikan kamu atau kamu ditinggal mati mereka?” Wanita itu berkata, “Kubunuh semuanya.” Isa as. berkata, “Sungguh mengejutkan sekali, suami-suamimu yang terakhir, mengapa mereka tidak mengambil pelajaran pada suami-suami terdahulu?”

Perlu Anda ketahui, orang yang menyangka bahwa memakai pakaian dunia pada badannya, sementara hatinya tetap sunyi dari dunia, berarti orang tersebut tertipu. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang cinta pada dunia ibarat orang yang berjalan di atas air. Dapatkah orang berjalan di atas air, kakinya tidak basah?” (Al-Hadits).

Suatu ketika Ali bin Abi Thalib r.a. berkirim surat kepada Salman Al-Farisi r.a, “Dunia itu laksana ular, halus disentuh, tetapi bisanya membahayakan. Berpalinglah dari dunia yang mengagumkan diri Anda, karena Anda bersahabat sedikit dengannya; letakkan segala kegelisahan dunia, karena Anda yakin akan berpisah dengannya; jadilah diri Anda sebagai orang yang senang dengan apa adanya, karena lebih waspada dari bahayanya; sebab, pemilik dunia ketika merasa tentram la akan dikejutkan oleh sesuatu yang dibencinya.”

Nabi Isa as. berkata, “Dunia ibarat orang yang minum air laut, semakin banyak semakin terasa haus, sehingga membinasakan diri sendiri.” Ketahuilah, orang yang merasa tentram pada dunia dengan keyakinannya, bahwa la telah lari dari dunia, itu tergolong orang yang sombong.


Dunia, bahkan, seperti rumah yang disiapkan pemiliknya, dihiasi untuk menerima tamu-tamu yang datang. Kemudian la memasuki salah satu rumahnya, lalu disodorkan mangkuk emas berisi dupa yang harum, agar la mencium baunya.Dupa itu dibiarkan untuk orang-orang yang menemuinya, tetapi tidak untuk dimiliki. Tetapi, pikirannya bodoh, orang tersebut menyangka dupa dan mangkuk emas itu diberikan kepadanya. Ketika hatinya mulai berhasrat la menuntut, lalu la gelisah dan rakus. Kalau saja la cerdas dan mengetahui pasti la cukup mengambil manfaatnya, dan berterima kasih, lalu mengembalikannya dengan hati yang bersih dan dada yang lapang.

Begitu pula Sunnatullah di dunia. Dunia adalah rumah jamuan bagi orang yang lewat. Bahkan rumah para penghuni, agar orang-orang yang lewat memanfaatkan mengambil bekal perjalanan, seperti pemanfaatan barang pinjaman. Kemudian dipindahkan kepada orang berikutnya dengan hati yang lapang tanpa ada ketergantungan hati terhadap apa yang beralih dari tangannya. Bukannya seperti orang yang menyesal ketika dunianya berakhir ke tangan orang lain.

Monday, January 24, 2011

SESUNGGUHNYA CANTIK ITU MUDAH DAN MURAH ...


by Vicky Robiyanto 

Seorang Muslimah Sejati

seorang muslimah sejati,
yang lembut fitrah tercipta,
halus kulit, manis tuturnya,
lentur hati,
telus wajahnya,
setelus rasa membisik di jiwa,
di matanya cahaya,
dalamnya ada air,
sehangat cinta,
sejernih suka,
sedalam duka,
ceritera hidupnya...

seorang gadis itu...

hatinya penuh manja,
penuh cinta, sayang semuanya,
cinta untuk diberi,
cinta untuk dirasa...

namun manjanya,
bukan untuk semua,
bukan lemah,
atau kelemahan dunia...

ia bisa kuat,
bisa jadi tabah,
bisa ampuh menyokong,
pahlawan-pahlawan dunia...

begitu unik tercipta,
lembutnya bukan lemah,
tabahnya tak perlu pada,
jasad yang gagah...

seorang gadis itu...

teman yang setia,
buat Adam dialah Hawa,
tetap di sini...

dari indahnya jannah,
hatta ke medan dunia,
hingga kembali mengecap nikmatNya...

seorang gadis itu...

bisa seteguh Khadijah,
yang suci hatinya,
tabah dan tenang sikapnya,
teman Ar-Rasul,
pengubat duka dan laranya...

bijaksana ia,
menyimpan lmu,
si teman bicara,
dialah Ishah,
penyeri taman Rasulullah,
dialah Hafsah,
penyimpan mashaf pertama kalamullah...

seorang gadis itu...

bisa setabah Maryam,
meski dicaci meski dikeji,
itu hanya cerca manusia,
namun sucinya ALLAH memuji...

seperti Fatimah kudusnya,
meniti hidup seadanya,
puteri Rasulullah,
kesayangan ayahanda...

suaminya si panglima agama,
di belakangnya dialah pelita,
cahya penerang segenap rumahnya,
ummi tersayang cucunda Baginda...

bisa dia segagah Nailah,
dengan dua tangan,
tegar melindung khalifah,
meski akhirnya bermandi darah,
meski akhirnya khalifah rebah,
syaheed menyahut panggilan ALLAH...

seorang gadis itu...

perlu ada yang membela,
agar ia terdidik jiwa,
agar ia terpelihara...

dengan kenal Rabbnya,
dengan cinta Rasulnya,
dengan yakin Deennya,
dengan teguh Aqidahnya,
dengan utuh cinta yang terutama,
ALLAH jua RasulNya,
dalam ketaatan penuh setia,
pemelihara maruah dirinya,
agama, keluarga dan ummahnya...

seorang gadis itu...

melenturnya perlu kasih sayang,
membentuknya perlu kebijaksanaan,
kesabaran dan kemaafan,
keyakinan dan penghargaan,
tanpa jemu dan tanpa bosan,
memimpin tangan, menunjuk jalan...
Bismillahir-Rahmanir-Rahim ...
Mendengar kata cantik, mungkin benak kita langsung membayangkan sosok tinggi- langsing, berkulit halus-lembut, dan memiliki wajah seindah purnama. Persis seperti model iklan kosmetika di televisi.

Berjuta-juta perempuan dengan wajah pas-pasan iri dan tergoda mencoba kosmetika tersebut. Apalagi narasi iklan sering menggambarkan begitu banyaknya laki-laki tampan tertarik padanya. Secara tak langsung iklan tersebut berkampanye; seperti inilah perempuan idaman laki-laki.

Kebanyakan orang menilai cantik tidaknya perempuan hanya dari fisik semata. Dan beruntunglah mereka yang dianugerahi rupa seindah mutiara. Tapi, bagaimana dengan mereka yang punya jasmani pas-pasan? Betapapun mereka sudah menggunakan kosmetik mahal, sulit menandingi perempuan yang sejak lahir sudah cantik.

Ada cara yang mudah dan murah untuk membuat perempuan cantik, meskipun secara fisik mereka kurang menarik. Yang pertama kali harus dilakukan adalah mendefinisikan kembali makna cantik tersebut. Cantik bukan masalah fisik semata. Kecantikan sejati juga bisa diraih dengan memaknakan kecantikan sebagai berikut:

1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan mata kaum laki-laki.

Seorang perempuan yang menghias jasmaninya dengan iman dan taqwa akan memancarkan cahaya surga. Dengan kepatuhannya menjalankan ibadah, ia akan memesona.Yang kuasa akan memberikannya kecantikan abadi, magnet alami. Tak perlu kosmetik, parfum atau penampilan berlebih, laki-laki akan tertarik padanya.

2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria.

Secara umum laki-laki memang responsif terhadap perempuan yang bagus fisiknya. Tapi ketertarikan itu tak kekal, bisa membuat laki-laki bosan. Kehangatan kasih sayang dan cinta kasih yang tuluslah yang akan membuat sang pria nyaman berada di sisinya. Tak bisa melupakannya.

3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya

Kelembutan bukan berarti lembek dan manja. Kelembutan seperti roti. Meskipun sedikit, tapi mengenyangkan. Dari toko roti manapun roti berasal, ia tetap lembut. Jadi perempuan dari suku manapun bisa tetap lembut, pada pasangannya, pada anak-anaknya. Asalkan ia mau berusaha.

4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan suaranya yang hangat.

Walau mata tak seindah bintang kejora, setiap perempuan bisa memiliki mata embun. Teduh. Sejuk. Tak gampang emosi. Menyikapi tingkah laku sekitarnya secara bijak. Ia selau berprasangkabaik. Perkatannya bukan pisau yang menikam. Perkataannya adalah bara yang menyalakan semangat di dada. Tak ada kata sia-sia yang terucap dari bibirnya.

5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya.

Senyum adalah sedekah. Murah senyum tanpa bermaksud menggoda apalagi berlebihan bisa membuat wajah indah. Meskipun berwajah rupawan, tapi jika malas tersenyum, hanya aura negatif yang akan ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya

6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya

Ukuran intelektual bukan pada gelar sarjananya atau di mana ia pernah menuntut. Banyak ilmu-ilmu yang bisa dipungut dari sekitar, yang membuat si perempuan mejadi cerdas. Kehidupan adalah sekolah yang tak pernah tamat sebelum ajal menjelang. Tak ada sekolah untuk menjadi istri yang baik. Tak ada universitas yang melahirkan ibu yang baik. Ruang dan waktulah yang akan menempa perempuan mejadi istri dan ibu yang baik.

7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia.

Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Seberapa jauh pengetahuan seorang perempuan akan terlihat dari tingkah laku keluarganya. Ia selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Mengambil peran penting dalam rangka memperbaiki lingkungan. Lihatlah laki-laki sukses di jagat raya. Dibalik kesuksesannya, pasti ada perempuan tangguh di menemani. Menjadi pendukung nomor satu, tempat kembali saat sang pahlawan lelah berjuang.

8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.

Orang bisa miskin harta, tapi ia bisa kaya hati. Selalu memberi, tanpa mengharap imbalan yang berarti. Ia senang ketika orang lain senang. Ia sedih ketika orang lain sedih. Kemurahan hatinya membuat wajahnya bersinar. Membuat ia selalu dirindukan, meskipun sosoknya biasa-biasa saja.

Mungkin masih banyak kecantikan lain yang tercecer.

Tapi dengan kecantikan-kecantikan ini, perempuan manapun bisa tampil memikat. Mudah caranya, murah biayanya.

Satu hal yang paling penting, kecantikan-kecantikan ini sifatnya abadi. Akan dikenang meskipun si perempuan telah tiada. Tidak seperti kecantikan lahiriah yang sementara. Setelah tua, ketika senja menyapa, ia tak menarik lagi. Manakah yang akan Anda pilih? Kecantikan sementara atau kecantikan abadi?

Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....

Marilah Setiap detak-detik jantung..,
selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...


Vicky
Zawiyah Sirul Barokah
Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik..

Sunday, January 23, 2011

Jadilah Seperti Rama Rama... ( Renungan Bersama )


by Abu Hanifah 

Tidak ada salahnya, sekali sekala kita merendahkan diri untuk belajar dari makhluk-makhluk Allah yang kecil. Bahkan itulah yang dituntut kepada kita, dengan kerendahan jiwa barulah kita dapat benar-benar merasai kebesaran dan keagungan Allah SWT. Allah SWT tentunya tidak menjadi semua ciptaanNya untuk tujuan main-main atau sia-sia. Lukisan alam yang begitu indah ini adalah gambaran seni dan rapinya ciptaan Allah tetapi manusia yang selalu leka dan lupa diri sentiasa lupa untuk bersyukur. Kata Said nursi Badi’uzzaman kita kagumkan lukisan tetapi kita lupa kehebatan Pelukisnya.

Sesungguhnya alam yang terbentang luas ini, kata syed Qutb merupakan kitab Rubbubiyyah yang terbentang. Sekiranya kita membuka lembarannya satu demi satu maka kita akan dapat memahami kehebatan Allah SWT. Bahkan ilmu Allah pun tak mampu kita taksir.

Cukuplah kali ini kalau kita melihat rama-rama. Makhluk kecil yang selalu kita terlepas pandang kewujudannya. Ya, rama-rama kecil yang berterbangan di sana sini. Mungkin tidak ramai yang tak sempat untuk mengkagumi seni dan keindahannya. Warna dan coraknya begitu indah dan serasi.






Saya begitu tertarik dengan gambaran penyair Tunisia, Ahmad Mukhtar yang dikemukakan oleh Muhammad Ahmad Ar Rasyid di dalam kitab dakwahnya iaitu Al Muntalaq. Kata-kata yang ringkas tetapi memiliki makna yang cukup mendalam. Tak hairanlah kalau saya tak jemu-jemu membacanya berulang kali.
  
Tenang dalam diamnya,
Lebih jelas dari orang yang berbicara.

Memang kecantikan rama-rama tidak lagi dapat dinafikan oleh sesiapa jua yang memiliki mata dan jiwa. Tidak ada bunyi yang dikeluarkan tetapi kita sering saja merasakan kehadirannya. Katakan ada seekor rama-rama yang tersesat masuk ke dalam kelas, rumah atau pejabat kita maka seluruh mata akan tertumpu padanya.

Begitulah syakhsiyah seorang mukmin; pendiam, selalu berfikir, merenung dengan tenang, tidak banyak bicara tetapi diliputi kewibawaan yang berpengaruh. Hati-hati merasa terisi dengan kehadirannya, suasana terasa sunyi tanpanya, majlis semakin bermakna melihat ketibaannya dan jiwa-jiwa menumpang ketenangan dari raut wajahnya. Mukmin itu ibarat permata beserta kilauan keindahannya, ketika bersendirianpun cahayanya begitu jelas dan indah maka apatah lagi apabila permata permata itu dikumpulkan makin terserlah dan indah cahayanya. Segala tingkah lakunya adalah qudwah bahkan diamnya pun menjadi sumber tarbiah.






Bila diamnya terlalu lama,
Tergugahlah ia oleh keharusannya untuk bergerak.

Diam dan istirehat itu adalah sunnah kehidupan, namun seorang mukmin tidak menjadikannya sebagai alasan untuk bermalasan, santai dan lalai melainkan sekadar memenuhi keperluan badani. Bermodalkan ilmu dan keimanan serta semangat dan keazaman, jiwanya sentiasa terdorong untuk beramal.

Namun syaithan tidak pernah mungkir dan lalai dengan janjinya untuk menyesatkan anak-anak Adam. Jiwa seorang mukmin sering tergugah dengan pujian dan sanjungan. Kilauan dunia hampir-hampir menjadikannya lalai dan leka dengan tujuan hidupnya yang hakiki. Namun dengan keimanan yang tertanam dijiwa dan rahmat Allah yang Maha Penyayang sering menjadikannya tersedar dan insaf. Itulah jiwa mukmin, seperti rama-rama yang kadang-kadang terpaku dengan kilauan air yang menjadikannya ta'jub terhadap keindahan dirinya.

Betapa sering ia melihat bayangan dirinya,
Yang terpantul dari riak air,
Seakan-akan bintang yang berkilauan,
Sedang permukaan air adalah cakrawalanya.

Ia terbang mengelilinginya,
Menatapinya dan merindukan seandainya dapat hinggap padanya,
Akan tetapi hampir saja ia binasa tenggelam,
Andai dirinya tidak segera sedar.

Itulah gambaran jiwa yang beriman,
Mustahil membodohi dirinya,
Jelas sekali perbezaan antara kesesatan dan petunjuk baginya.

Teman Dan Ular Berbisa....... ( Muhasabah )


by Abu Hanifah 

Bukanlah sesuatu yang hina apabila banyaknya keburukan pada diri kita. Bahkan semua keburukan itu tumbuh melalui persekitaran hidup dimana kita lahir dan membesar. Tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah SAW. Namun yang menjadikan kita hina apabila kita merasa selesa serta tidak cuba merawat atau menanggalkan segala keburukan hingga keburukan itu mencorakkan syakhsiyah dan identiti kita.

Keburukan diri sendiri disifatkan oleh imam Al Ghazali sebagai 'ular dalam selimut' ia hanya menanti hari untuk membinasakan jiwa kita hingga akhirnya kita tersungkur hina di depan Allah SWT. Bisanya ular ini bukan kerana racunnya yang merosakkan fizikal kita tetapi ianya mampu mematikan jiwa kita hingga tiada lagi kemuliaan dan kecintaan pada kebenaran dan keimanan. Apalagi yang boleh kita banggakan didepan Allah SWT ketika hari pengadilan nanti jika seluruh amal dan pengorbanan kita tidak diterima kerana rosaknya keihklasan kita.

Saya teringatkan satu hadith yang benar-benar menimbulkan rasa takut dan cemas ketika saya kali pertama membacanya.




Dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda:

Pada hari kiamat nanti di antara orang yang paling pertama dibuat keputusan terhadapnya; Di antara mereka ialah seorang yang telah syahid. Orang ini akan dibawa di hadapan Allah SWT. Allah SWT akan menyatakan nikmat-nikmatNya yang telah dikurniakan terhadapnya dan dia mengakuinya. Kemudian Allah SWT akan berfirman: Apa yang telah engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?

Dia akan menjawab: Aku telah berperang untuk mendapatkan redhaMu sehingga aku telah syahid. Allah SWT akan berfirman: Engkau berbohong. Engkau telah berjihad supaya orang menggelar kamu sebagai seorang yang berani dan yang demikian itu telah pun diperkatakan. Kemudian dia akan diperintahkan untuk diseret di atas mukanya dan akan dilemparkan ke dalam nereka Jahanam.

Orang kedua ialah dia yang telah mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya kepada orang lain dan dia membaca Al-Quran. Dia dibawa di hadapan Allah SWT . Orang ini akan dibawa di hadapan Allah SWT. Allah SWT akan menyatakan nikmat-nikmatNya yang telah dikurniakan terhadapnya dan dia mengakuinya. Kemudian Allah SWT akan berfirman: Apa yang telah engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?

Dia akan berkata: Aku telah mempelajari ilmu dan mengajarnya kepada orang lain dan untuk mendapat redhaMulah aku telah membaca Al-Quran. Allah SWT akan berfirman: Kamu bohong. Kamu pelajari ilmu supaya orang menggelarmu ‘alim’ dan membaca Quran supaya orang memanggilmu Qari. Kemudian dia akan diperintahkan untuk diseret di atas mukanya dan akan dilemparkan ke dalam neraka Jahanam.

Orang ketiga ialah orang kaya yang didunia dulu telah diberi kemewahan dan segala bentuk harta benda. Dia akan dibawa di hadapan Allah SWT . Orang ini akan dibawa di hadapan Allah SWT. Allah SWT akan menyatakan nikmat-nikmatNya yang telah dikurniakan terhadapnya dan dia mengakuinya. Kemudian Allah SWT akan berfirman: Apa yang telah engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat ini? 

Dia akan menjawab: Apa saja saluran yang Engkau suka supaya dilakukan perbelanjaan padanya, semuanya telah aku belanjakan padanya harta-hartaku yang telah Engkau anugerahkan itu keranaMu. Allah SWT berfirman: Engkau bohong. Kamu telah berbelanja supaya digelar sebagai dermawan dan yang itu telah pun diperkatakan. Kemudian dia akan diperintahkan untuk diseret di atas mukanya dan akan dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. (Hadith Riwayat Muslim)




Siapalah kita untuk dibandingkan dengan orang yang mati syahid? Tetapi kerana rosakknya amalan hati maka orang yang mati syahidpun akan dihumbankan ke neraka Allah SWT apatah lagi kita terlalu sedikit amalannya dan belum tentu keikhlasannya.

Seorang yang yakin akan hari perhitungan ini tentunya begitu gembira apabila ada saudaranya atau temannya datang lalu memberitahu keburukan yang ada pada dirinya. Disaat itu ia menyedari kelemahannya lalu berusaha merawatnya. Alangkah gembira dan berterima kasihnya ia pada temannya. 

Persoalannya adakah begitu sikap kita apabila menerima kritikan? Kata Imam Ghazali "Seorang mukmin akan mengambil pengajaran walaupun dari lisan/lidah musuh". jika ada seorang yang memusuhi kita datang dengan sepuluh cacian maka seorang mukmin akan mendengarkannya baik-baik. Mungkin satu dari padanya itu betul dan sekiranya betul maka ia masih mempunyai masa untuk bertaubat dan menanggalkan dari hati kita sebelum ia dipanggil pulang mengadap Allah SWT.

Siapalah kita untuk merasakan diri kita sempurna tanpa cela? Siapalah kita untuk merasakan diri kita bersih tanpa kesalahan dan kecuaian? Bukankah Allah SWT pernah berfirman dalam satu hadith Qudsi: 

"Wahai hambaKu sesungguhnya kamu ialah orang yang melakukan kesalahan malam dan siang dan Akulah yang mengampunkan semua dosa, maka minta ampunlah kepada Ku maka akan Ku ampunkan dosa kamu."




Oleh itu, marilah kita melazimi taubat kita kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada insan yang berani dan sanggup menegur kelemahan yang ada pada diri kita. Saya pernah menangis di depan seorang sahabat yang saya rasakan sebagai abang saya sendiri. Setiap kali bertemu, dia akan memuji kebaikan yang ada pada diri kita hinggalah satu hari tanpa saya sedari saya menangis dan bertanya "Adakah ini (pujian) yang paling dihajati oleh seorang teman, bukankah Saidina Umar RA menyifatkan teman yang suka memuji ini adalah teman yang menikam dari belakang. Tikaman ini tidak mematikan jasad tetapi mematikan jiwa serta merosakkan amal."

Saidina Umar sendiri merupakan seorang yang garang dan tegas. Ketika dia menjadi khalifah ia selalu menguji sahabat-sahabat lain. Saidina Umar RA sering mengemukan pandangan lalu meminta persetujuan sahabat-sahabat yang lain. Tentunya sahabat-sahabat lain cepat bersetuju tanpa bangkangan. lau kata Saidina Umar RA "Kenapa begitu, bagaimana kalau pandangan aku ini salah, siapakah yang akan menolongku di Akhirat nanti.

Carilah teman yang 'sampai hati' menyatakan keburukan kita bukan menjaga hati kita dengan menyembunyikan segala keburukan kita. Berlatihlah untuk berterima kasih kepada orang yang menegur atau mengkritik kita walaupun teguran itu kasar dan tidak berhikmah bahkan jika kritikan itu datang dari orang yang terlalu muda berbanding kita sekalipun.